Selasa, 21 April 2015

MODEL PEMBELAJARAN




MAKALAH
MODEL  PEMBELAJARAN
Sebagai Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran
Dosen Pembimbing: Muh. Rodhi Zamzami, M. Pd.I
                           


Oleh:
IMAM BAIHAQI
ROZIQIN FITRONI

FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
“MA’HAD ALY AL-HIKAM”
MALANG





BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Setiap individu organisme pasti mengalami belajar mulai dari keberadaannya di dunia ini baik yang secara alami (tidak terkonsep) maupun terkonsep dengan berbagai pendekatan, metode, strategi, taktik dan model pembelajaran. Agar proses pembelajaran dapat sesuai dengan tujuan belajar maka perlu sekali hal-hal tersebut dipersiapkan secara matang.
Pengajar sebagai peran penting yang ada dalam proses ini sangat perlu memahami dan menguasai apa saja yang menjadikan suksesnya kegiatan tersebut. Untuk itu, di sini penulis akan mengulas sedikit salah satu hal yang menjadi penopang suksesnya kegiatan pembelajaran dengan harapan dapat bermanfaat untuk bekal pembelajaran khusunya untuk pribadi penulis. Dan salah satu yang menjadikan suksesnya proses pembelajaran adalah Model Pembelajaran.


B.        Rumusan Masalah
1.         Pengertian Model Pembelajaran
2.         Macam-macam Model Pembelajaran
3.         Model Pembelajaran yang efektif



BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Model Pembelajaran

Kata pembelajaran berasal dari kata dasar ajar yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Sedangkan kata bel·ajar punya beberapa arti; 1. berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, 2. Berlatih, 3. berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman. Dan kata  pem·bel·a·jar·an berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.[1]
Model punya arti; 1. pola (contoh, acuan, ragam, dsb) dr sesuatu yg akan dibuat atau dihasilkan, 2. orang yang dipakai sebagai contoh untuk dilukis (difoto), 3. orang yang (pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yg akan dipasarkan, 4. barang tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa) persis spt yang ditiru.[2] Istilah “model” dalam perspektif yang dangkal hampir sama dengan strategi. Jadi model pembelajaran hampir sama dengan strategi pembelajaran. Menurut Sagala, istilah model dapat dipahami sebagai suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan.[3] Model juga dapat dipahami sebagai: 1) suatu tipe atau disain; 2) suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat dengan langsung diamati; 3) suatu sistem asumsi-asumsi, data-data dan inferensi-inferensi yang digunakan menggambarkan secara sistematis suatu objek atau pristiwa; 4) suatu disain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan realitas yang disederhanakan; 5) suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner, dan 6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya.[4]Model dirancang untuk mewakili realitas yang sesungguhnya walaupun model itu sendiri bukanlah realitas dari dunia yang sebenarnya.[5] Maka model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran.[6]
Meskipun terdapat kemiripan pengertian model dengan istilah lain yang hampir semakna yakni kata pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran, secara spesifik model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran mulai dari awal sampai akhir yang memuat, strategi, metode, dan teknik bahkan taktik yang disajikan oleh pengajar. Dengan kata lain Model Pembelajaran adalah bingkai atau bungkus dari penerapan rangakaian  metode, pendekatan, strategi, teknik, bahkan taktik pembelajaran.

B.        Macam-macam Model Pembelajaran
Banyak para pakar yang mengembangkan model-model belajar dan pembelajaran di berbagai Negara dan penerapan model-model tersebut terbukti memberikan hasil yang memuaskan ditinjau dari sudut pandang tertentu.  Berikut tiga model yang ramai diterapkan diberbagai lembaga pendidikan di Indonesia:

1.      Problem based learning
Belajar dan pembelajaran yang diorientasikan kepada pemecahan berbagai masalah terutama yang berkaitan dengan aplikasi materi pelajaran di dalam  kehidupan nyata. Selama siswa melakukan kegiatan memecahkan masalah, guru berperan sebagai tutor yang akan membantu mereka mendefinisikan apa yang mereka tidak tahu dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memahami  atau memecahkan masalah.
Dasar pengembangan model ini diantaranya :
a.      Prinsip enquiry learning yang memandang upaya untuk menemukan sendiri pengetahuan.
b.      Teori teori psikologi belajar dan pembelajaran modern yang menjelaskan bawa pengetahuan akan lebih diingat dan dikemukakan kembali secara lebih efektif jika belajar dan pembelajaran didasarkan dalam konteks manfaatnya di masa depan  .
Dalam model ini terdapat dua jenis tahapan dalam memecahkan masalah :
a.      Tahapan pemecahan masalah secara akademik
Secara akademik tahapan pemecahan masalah yang komplek adalah :
1.         Kesadaran akan adanya masalah
2.         Merumuskan masalah
3.         Membuat jawaban sementara atas masalah atau hipotesis
4.         Mengumpulkan data atau fakta fakta
5.         Menganalisis data atau fakta fakta sebagai pengujian hipotesa
6.         Membuat alternative pemecahan masalah
7.         Membuat kesimpulan bedasarkan hasil pengujian hipotesa
8.         Menetapkan pilihan diantara alternative pemecahan masalah
9.         Menyusun rencana upaya pemechan masalah
10.     Melaksanakan upaya pemecahan maslah
11.     Mengevaluasi hasil pemecahan masalah
b.      Tahapan pemecahan masalah secara praktis adalah
1.         Kesadaran akan adanya masalah
2.         Merumuskan masalah
3.         Mencari alternatv pemecahan masalah
4.         Menetapkan pilihan diantara alternative pemecahan masalah
5.         Melaksanakan pemecahan masalah
6.         Evaluasi hasil pemecahan masalah
2.      Cooperative Learning
Adalah model belajar yang didasari oleh falsafah bahwa manusia adalah mahluk sosial sehingga pada model ini ditonjolkan kerjasama antara siswa.
Terdapat 2 kemungkinan kerjasama antara siswa dalam kelompok belajar :
a.      Kooperatif yaitu kerjasam antara siswa yang berbeda tingkat kemampuanya
b.      Kolaboratif yaitu kerjasama antara siswa dengan kemampuan yang setingkat.
Tahapan-tahapan dalam penyelenggaraan cooperative learning:
a.      Mempelajari standar isi dan standar kompetensi siswa dan kurikulum.
b.      Pelajari tingkat pengetahuan siswa
c.       Kelompokan siswa ke dalam sejumlah kelompok
d.      Tetapkan kegiatan yang harus dikerjakan oleh setiap kelompok.
e.      Lakukan penyusunan kelas
f.        Beri pengkodisian awal kepada siswa sebelum kegiatan kelompok
g.      Siswa melaksanakan belajar kelompok dengan mengikuti petunjuk guru
h.      Menutup kegiatan belajara dan pembelajaran dengan menyelenggarakan diskusi tentang hasil kegiatan setiap kelompok
i.        Guru melakukan penilaian terhadap hasil kegiatan siswa.
3.      Quantum teaching
Medorong terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan fasilitas belajar lainya secara terarah sesuai karakteristik diri, potensi, dan kebutuhan individual siswa guna mengerahkan seluruh energinya untuk mencapai kegemilangan dalam belajar[7].
Pada model ini terdapat enam unsur yang digunakan akronim TANDUR agar dapat diingat dengan mudah, unsur tersebut adalah:
a.    Tumbuhkan          : memikat siswa, menumbuhkan rasa ikut serta siswa dan memuaskan siswa dengan AMBAK (Apa Manfaatnya Bagiku)
b.    Alami                   : memberikan pengalaman belajar kepada siswa dan menumbuhkan rasa butuh untuk mengetahui.
c.    Namai                  : memberikan data kepada siswa saat minat siswa memuncak.
d.    Demonstrasikan : member kesempatan pada siswa untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru. Sehingga lebih menghayati dan menjadi pengalaman pribadi.
e.    Ulangi                  : merekatkan seluruh gambaran melalui pengulangan.
f.     Rayakan               : memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa.

Ketiga model yang telah dituturkan mungkin memang model yang saat ini sedang ramai diterapkan di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia, namun belum tentu menjadi yang terbaik untuk diterapkan pada setiap pembelajaran. Terdapat pula beberapa model pembelajaran yang mungkin dapat dijadikan rujukan pada kondisi tertentu atau setidaknya sebagai wawasan pengajar agar lebih matang dalam menguasai proses pembelajaran.

1.      Role Playing.
Adalah cara penguasaan bahan-bahan pelajaran  melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
Dalam model ini ada beberapa keuntungan, yaitu:
a.      Siswa bebas mengambil keputusan dan berekpresi secara utu;.
b.      Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda;
c.       Guru dapat mengevaluasi pemahaman setiap siswa melalui pengamatan pada saat melakukan permainan;
d.      Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

2.      Picture and picture
Adalah model belajar yang menggunakan gambar yang dipasangkan atau diurutkan menjadi urutan logis.
Kebaikan model ini adalah:
a.      Guru lebih mengetahui kemampuan tiap-tiap siswa;
b.      Melatih siswa untuk berpikir logis dan sistematik.
Adapun kekurangannya adalah memakan banyak waktu dan banyak siswa yang pasif.

3.      Numbered heads together
Adalah metode belajar dengan cara setiap siswa diberi nomor dan dibuat satu kelompok, kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Kelebihan model ini:
a.      Setiap siswa menjadi siap semua
b.      Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh
c.       Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai
Kelemahan model ini:
a.      Kemungkinan nomor yang dipanggil akan dipanggil lagi oleh guru
b.      Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru[8].

4.      Model Jigsaw
Dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri atas empat orang siswa sehingga  setiap anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen atau sub topic yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari tiap-tiap kelompok yang bertanggung jawab terhadap sub topic yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri atas dua atau tiga siswa.
Siswa-siswa ini bekerjasama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam:
a.      Belajar dan menjadi ahli dalam subtopic bagiannya;
b.      Merencanakan cara mengajarkan subtopic bagiannya kepada anggota kelompoknya semula.
Setelah itu siswa tersebut kembai lagi kepada kelompok masing-masing dan menjadi ahli sesai dengan subtopic yang didapat dan menjelaskan kepada teman-teman kelompokmya. Begitu juga dengan siswa lain yang mendapatkan subtopic berbeda juga menjelaskan kepada teman-teman kelompokmya.

5.      Team games tournament (TGT)
Adalah model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan dengan melibatkan aktifitas seluruh siswa tanpa membedakan status, melibatkan tutor sebaya, dan memuat unsur permainan dan reinforcement.
Model TGT ini memungkinkan pembelajaran yang lebih rileks di samping menumbuhkan tanggungjawab, kerjasam, persaingan, dan keterlibatan belajar.
Dalam model ini terdapat lima komponen utama, yaitu:
a.      Penyajian kelas
b.      Kelompok
c.       Game
d.      Turnamen
e.      Penghargaan kelompok (team recognize).

6.      Model Examples Non Examples
Adalah model belajar yang menggunakan contoh-contoh baik contoh dari kasus ataupun contoh lainnya.
Kelebihan Model Examples Non Examples:
a.      Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar;
b.      Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar;
c.       Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangannya adalah:
a.      Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar;
b.      Memakan waktu yang lama

7.      Model Lesson Study
Adalah suatu proses untuk mengembangkan profesionalitas guru-guru dengan jalan menyelidiki atau menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Lesson study diciptakan oleh Makoto Yoshida dari Jeopang dan metode ini dikembangkan di sana dengan sebutan Jugyokenkyuu.
Kelebihan model ini:
a.      Dapat diterapkan pada semua bidang dan setiap tingkatan kelas;
b.      Dapat dilaksanakan antar kelas.

8.      Model temuan terbimbing
Adalah satu pendekatan mengajar di mana guru memberi siswa contoh topic spesifik dan memandu siswa untuk memahami topik tersebut. Model ini efektif untuk mendorong keterlibatan dan motivasi siswa seraya membantu mereka untuk mendapatkan pehamanan yang mendalam tentang topik-topik yang jelas.
9.      Model peralihan konsep
Model pengajaran yang dirancang untuk membantu siswa dari semua usia mengembangkan dan menguatkan pemahaman mereka tentang konsep dan mempraktekkkan berpikir kritis di dalam pelajarannya.
10.  Model Integratif
Adalah model pengajaran yang atau instruksional untuk membantu siswa mengembangkan pemahaman mendalam tentang bangunan pengetahuan sistematis sambil secara bersamaan melatih ketrampilan berpikir kritis mereka.
Model ini dirancang untuk membantu siswa mencapai dua tujuan belajar yang terkait:
a.      Membangun pemahaman yang mendalam tenteng bangunan pengetahuan yang sistematis;
b.      Mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

11.  Model pembelajaran langsung
Yaitu model ayng menggunakan peragaan dan penjelasan guru digabungkan dengan latihan dan umpan balik siswa untuk membantu mereka mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan nyata yang dibutuhkan untuk pembelajaran yang lebih jauh (Flores & Kaylor, 2007; Leno & Dougherty, 2007).

12.  Model Ceramah Diskusi
Ini adalah model pengajaran yang dirancang untuk membantu siswa memahami bangunan pengetahuan sistematis, dalam pelajarannya.
Bangunan pengetahuan sistematis (organized body of knowledge) adalah topic-topik yang menghubungkan fakta, konsep, dan generalisasi serta membuat hubungan di antara semua itu eksplisit atau gambling (Eggen & Kauchak, 2010; Rosenshine, 1987)[9].

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil mengetengahkan empat model:
1.       Model interaksi social
2.       Model pengolahan informasi
3.       Model personal humanistic
4.       Model modifikasi tingkah laku.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang aktif, pengajar atau guru harus pandai memilih model yang tepat yang sesuai dengan siswa, kondisi, sarana dan prasarana, ataupun apa saja yang terkait dengan pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam memilih model pembelajaran adalah keefektifan proses pembelajaran, tentunya dengan menitik beratkan orientasi pada siswa.
Tidak ada model pembelajaran yang paling unggul secara mutlak. Namun keunggulan model belajar tergantung pada situasi kondisi yang ada pada tempat pembelalajaran. Satu model yang unggul dalam penerapan satu kondisi belum tentu unggul bula diterapkan pada kondisi yang lain. Oleh karena itu untuk penerapan model yang relevan dengan situasi dan kondisi tertentu, guru harus memahami model pembelajaran dari segi tatacara, kentungan, kekurangan maupun keampuhannya.


BAB III
KESIMPULAN
A.       Definisi
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
Meskipun terdapat kemiripan pengertian model dengan istilah lain yang hampir semakna yakni kata pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran, secara spesifik model adalah bentuk pembelajaran mulai dari awal sampai akhir yang memuat, strategi, metode, dan teknik bahkan taktik yang disajikan oleh pengajar
B.        Macam-macam model pembelajaran.
a.      Problem based learning
b.      Cooperative Learning
c.       Quantum teaching
d.      Role Playing
e.      Picture and picture
f.        Numbered heads together
g.      Model Jigsaw
h.      Team games tournament (TGT)
i.        Model Examples Non Examples
j.        Model Lesson Study
k.       Model temuan terbimbing
l.        Model peralihan konsep
m.    Model Integratif
n.      Model pembelajaran langsung
o.      Model Ceramah Diskusi

Seyogyanya guru mengerti, memahami, dan mampu memilih model yang paling efisien untuk peserta belajar sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga dapat membuat siswa belajar secara optimal.


Daftar Pustaka
·         Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi  Pendidikan: Membantu Mengatasi Kesulitan Guru Memberikan Layanan Belajar Yang Bermutu (Bandung: Alfabeta, 2010).
·         Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah (Jakarta: Bumi Aksara,2000).
·         Masrofiq, Makalah Strategi Pembelajaran, Malang, 2015
·         Software KBBI v.1.1
·         Prof. Abdurrakhman  Gittings, M.Si.Ph.D., Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Humaniora Bandung, 2010.
·         Paul Eggen & Don Kauchak, Strategi dan Model Pembelajaran, Jakarta, Indeks, cetakan I 2012.
·         Dr. Hamdani, M.A., Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia Bandung, 2011.



[1] Software KBBI V1.1
[2] Software KBBI v.1.1
[3]Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi  Pendidikan: Membantu Mengatasi Kesulitan Guru Memberikan Layanan Belajar Yang Bermutu (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 62.
[4]Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah (Jakarta: Bumi Aksara,2000), h.152
[5]Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi  Pendidikan: Membantu Mengatasi Kesulitan Guru Memberikan Layanan Belajar Yang Bermutu (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 176
[6] Masrofiq, Makalah Strategi Pembelajaran, Malang, 2015
[7] Prof. Abdurrakhman  Gittings, M.Si.Ph.D., Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Humaniora 2010, hlm. 210
[8] Dr. Hamdani, M.A., Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia Bandung, 2011, hlm. 89.
[9] Paul Eggen & Don Kauchak, Strategi dan Model Pembelajaran, Indeks, cetakan I 2012, hlm. 400.