MAKALAH
MODEL
PEMBELAJARAN
Sebagai Tugas Mata Kuliah Strategi Pembelajaran
Dosen Pembimbing: Muh. Rodhi
Zamzami, M. Pd.I
Oleh:
IMAM BAIHAQI
ROZIQIN FITRONI
FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
“MA’HAD ALY AL-HIKAM”
MALANG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap individu organisme pasti mengalami belajar mulai dari
keberadaannya di dunia ini baik yang secara alami (tidak terkonsep) maupun
terkonsep dengan berbagai pendekatan, metode, strategi, taktik dan model
pembelajaran. Agar proses pembelajaran dapat sesuai dengan tujuan belajar maka
perlu sekali hal-hal tersebut dipersiapkan secara matang.
Pengajar sebagai peran penting yang ada dalam proses ini
sangat perlu memahami dan menguasai apa saja yang menjadikan suksesnya kegiatan
tersebut. Untuk itu, di sini penulis akan mengulas sedikit salah satu hal yang
menjadi penopang suksesnya kegiatan pembelajaran dengan harapan dapat
bermanfaat untuk bekal pembelajaran khusunya untuk pribadi penulis. Dan salah
satu yang menjadikan suksesnya proses pembelajaran adalah Model Pembelajaran.
B.
Rumusan Masalah
1.
Pengertian Model Pembelajaran
2.
Macam-macam Model Pembelajaran
3.
Model Pembelajaran yang efektif
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Model Pembelajaran
Kata pembelajaran
berasal dari kata dasar ajar yang berarti
petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Sedangkan kata
bel·ajar punya beberapa arti; 1. berusaha memperoleh kepandaian atau
ilmu, 2. Berlatih, 3.
berubah tingkah laku atau tanggapan yg disebabkan oleh pengalaman. Dan kata pem·bel·a·jar·an berarti proses, cara,
perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.[1]
Model punya arti; 1. pola (contoh, acuan, ragam, dsb) dr sesuatu yg akan
dibuat atau dihasilkan, 2. orang yang dipakai
sebagai contoh untuk dilukis (difoto), 3. orang
yang (pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yg akan dipasarkan, 4. barang tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa)
persis spt yang ditiru.[2] Istilah “model” dalam perspektif yang dangkal hampir sama
dengan strategi. Jadi model pembelajaran hampir sama dengan strategi
pembelajaran. Menurut Sagala, istilah model dapat dipahami sebagai suatu
kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu
kegiatan.[3]
Model juga dapat dipahami sebagai: 1) suatu tipe atau disain; 2) suatu
deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi
sesuatu yang tidak dapat dengan langsung diamati; 3) suatu sistem
asumsi-asumsi, data-data dan inferensi-inferensi yang digunakan menggambarkan
secara sistematis suatu objek atau pristiwa; 4) suatu disain yang
disederhanakan dari suatu sistem kerja, suatu terjemahan realitas yang
disederhanakan; 5) suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau
imajiner, dan 6) penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan
menunjukkan sifat bentuk aslinya.[4]Model
dirancang untuk mewakili realitas yang sesungguhnya walaupun model itu sendiri
bukanlah realitas dari dunia
yang sebenarnya.[5]
Maka model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan kegiatan pembelajaran.[6]
Meskipun terdapat kemiripan pengertian model dengan istilah
lain yang hampir semakna yakni kata pendekatan, strategi, metode, dan
teknik pembelajaran, secara spesifik model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran mulai
dari awal sampai akhir yang memuat, strategi, metode, dan teknik bahkan taktik yang
disajikan oleh pengajar. Dengan kata lain Model Pembelajaran adalah bingkai
atau bungkus dari penerapan rangakaian metode, pendekatan, strategi, teknik, bahkan
taktik pembelajaran.
B.
Macam-macam Model Pembelajaran
Banyak para pakar yang mengembangkan model-model belajar dan
pembelajaran di berbagai Negara dan penerapan model-model tersebut terbukti
memberikan hasil yang memuaskan ditinjau dari sudut pandang tertentu. Berikut tiga model yang ramai diterapkan
diberbagai lembaga pendidikan di Indonesia:
1.
Problem based learning
Belajar dan pembelajaran yang diorientasikan kepada
pemecahan berbagai masalah terutama yang berkaitan dengan aplikasi materi
pelajaran di dalam kehidupan nyata. Selama
siswa melakukan kegiatan memecahkan masalah, guru berperan sebagai tutor yang
akan membantu mereka mendefinisikan apa yang mereka tidak tahu dan apa yang
mereka perlu ketahui untuk memahami atau
memecahkan masalah.
Dasar pengembangan model ini diantaranya :
a.
Prinsip enquiry learning yang memandang upaya untuk menemukan
sendiri pengetahuan.
b.
Teori teori psikologi belajar dan pembelajaran modern yang
menjelaskan bawa pengetahuan akan lebih diingat dan dikemukakan kembali secara
lebih efektif jika belajar dan pembelajaran didasarkan dalam konteks manfaatnya
di masa depan .
Dalam model ini terdapat dua jenis tahapan dalam
memecahkan masalah :
a.
Tahapan pemecahan masalah secara akademik
Secara akademik tahapan pemecahan masalah yang komplek
adalah :
1.
Kesadaran akan adanya masalah
2.
Merumuskan masalah
3.
Membuat jawaban sementara atas masalah atau hipotesis
4.
Mengumpulkan data atau fakta fakta
5.
Menganalisis data atau fakta fakta sebagai pengujian hipotesa
6.
Membuat alternative pemecahan masalah
7.
Membuat kesimpulan bedasarkan hasil pengujian hipotesa
8.
Menetapkan pilihan diantara alternative pemecahan masalah
9.
Menyusun rencana upaya pemechan masalah
10.
Melaksanakan upaya pemecahan maslah
11.
Mengevaluasi hasil pemecahan masalah
b.
Tahapan pemecahan masalah secara praktis adalah
1.
Kesadaran akan adanya masalah
2.
Merumuskan masalah
3.
Mencari alternatv pemecahan masalah
4.
Menetapkan pilihan diantara alternative pemecahan masalah
5.
Melaksanakan pemecahan masalah
6.
Evaluasi hasil pemecahan masalah
2.
Cooperative Learning
Adalah model belajar yang didasari oleh falsafah bahwa
manusia adalah mahluk sosial sehingga pada model ini ditonjolkan kerjasama
antara siswa.
Terdapat 2 kemungkinan kerjasama antara siswa dalam
kelompok belajar :
a.
Kooperatif yaitu kerjasam antara siswa yang berbeda tingkat
kemampuanya
b.
Kolaboratif yaitu kerjasama antara siswa dengan kemampuan
yang setingkat.
Tahapan-tahapan dalam penyelenggaraan cooperative
learning:
a.
Mempelajari standar isi dan standar kompetensi siswa dan
kurikulum.
b.
Pelajari tingkat pengetahuan siswa
c.
Kelompokan siswa ke dalam sejumlah kelompok
d.
Tetapkan kegiatan yang harus dikerjakan oleh setiap kelompok.
e.
Lakukan penyusunan kelas
f.
Beri pengkodisian awal kepada siswa sebelum kegiatan kelompok
g.
Siswa melaksanakan belajar kelompok dengan mengikuti petunjuk
guru
h.
Menutup kegiatan belajara dan pembelajaran dengan
menyelenggarakan diskusi tentang hasil kegiatan setiap kelompok
i.
Guru melakukan penilaian terhadap hasil kegiatan siswa.
3.
Quantum teaching
Medorong terjadinya interaksi antara siswa dengan
siswa, siswa dengan guru, siswa dengan fasilitas belajar lainya secara terarah
sesuai karakteristik diri, potensi, dan kebutuhan individual siswa guna
mengerahkan seluruh energinya untuk mencapai kegemilangan dalam belajar[7].
Pada model ini terdapat enam unsur yang digunakan
akronim TANDUR agar dapat diingat dengan mudah, unsur tersebut adalah:
a.
Tumbuhkan : memikat
siswa, menumbuhkan rasa ikut serta siswa dan memuaskan siswa dengan AMBAK (Apa
Manfaatnya Bagiku)
b.
Alami :
memberikan pengalaman belajar kepada siswa dan menumbuhkan rasa butuh untuk
mengetahui.
c.
Namai :
memberikan data kepada siswa saat minat siswa memuncak.
d.
Demonstrasikan : member
kesempatan pada siswa untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru. Sehingga
lebih menghayati dan menjadi pengalaman pribadi.
e.
Ulangi :
merekatkan seluruh gambaran melalui pengulangan.
f.
Rayakan :
memberikan penghargaan atas keberhasilan siswa.
Ketiga model yang telah dituturkan mungkin memang model yang
saat ini sedang ramai diterapkan di berbagai lembaga pendidikan di Indonesia,
namun belum tentu menjadi yang terbaik untuk diterapkan pada setiap
pembelajaran. Terdapat pula beberapa model pembelajaran yang mungkin dapat
dijadikan rujukan pada kondisi tertentu atau setidaknya sebagai wawasan
pengajar agar lebih matang dalam menguasai proses pembelajaran.
1. Role Playing.
Adalah cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan
penghayatan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati.
Dalam model ini ada beberapa keuntungan, yaitu:
a. Siswa bebas mengambil keputusan
dan berekpresi secara utu;.
b. Permainan merupakan
penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda;
c. Guru dapat mengevaluasi
pemahaman setiap siswa melalui pengamatan pada saat melakukan permainan;
d. Permainan merupakan
pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
2.
Picture and picture
Adalah model belajar yang menggunakan gambar yang dipasangkan
atau diurutkan menjadi urutan logis.
Kebaikan model ini adalah:
a.
Guru lebih mengetahui kemampuan tiap-tiap siswa;
b.
Melatih siswa untuk berpikir logis dan sistematik.
Adapun kekurangannya adalah memakan banyak waktu dan banyak
siswa yang pasif.
3.
Numbered heads together
Adalah metode belajar dengan cara setiap siswa diberi nomor
dan dibuat satu kelompok, kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Kelebihan model ini:
a.
Setiap siswa menjadi siap semua
b.
Siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh
c.
Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai
Kelemahan model ini:
a.
Kemungkinan
nomor yang dipanggil akan dipanggil lagi oleh guru
b.
Tidak
semua anggota kelompok dipanggil oleh guru[8].
4.
Model Jigsaw
Dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar
menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam
kelompok belajar kooperatif yang terdiri atas empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap
penguasaan setiap komponen atau sub topic yang ditugaskan guru dengan
sebaik-baiknya. Siswa dari tiap-tiap kelompok yang bertanggung jawab terhadap
sub topic yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri atas dua atau tiga
siswa.
Siswa-siswa ini bekerjasama untuk menyelesaikan tugas
kooperatifnya dalam:
a.
Belajar dan menjadi ahli dalam subtopic bagiannya;
b.
Merencanakan cara mengajarkan subtopic bagiannya kepada
anggota kelompoknya semula.
Setelah itu siswa tersebut kembai lagi kepada kelompok
masing-masing dan menjadi ahli sesai dengan subtopic yang didapat dan
menjelaskan kepada teman-teman kelompokmya. Begitu juga dengan siswa lain yang
mendapatkan subtopic berbeda juga menjelaskan kepada teman-teman kelompokmya.
5.
Team games tournament (TGT)
Adalah model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan
dengan melibatkan aktifitas seluruh siswa tanpa membedakan status, melibatkan
tutor sebaya, dan memuat unsur permainan dan reinforcement.
Model TGT ini memungkinkan pembelajaran yang lebih rileks di
samping menumbuhkan tanggungjawab, kerjasam, persaingan, dan keterlibatan
belajar.
Dalam model ini terdapat lima komponen utama, yaitu:
a.
Penyajian kelas
b.
Kelompok
c.
Game
d.
Turnamen
e.
Penghargaan kelompok (team recognize).
6.
Model Examples Non Examples
Adalah model belajar yang menggunakan contoh-contoh baik
contoh dari kasus ataupun contoh lainnya.
Kelebihan Model Examples Non Examples:
a.
Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar;
b.
Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar;
c.
Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangannya adalah:
a.
Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar;
b.
Memakan waktu yang lama
7.
Model Lesson Study
Adalah suatu proses untuk mengembangkan
profesionalitas guru-guru dengan jalan menyelidiki atau menguji praktik
mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Lesson study diciptakan oleh Makoto
Yoshida dari Jeopang dan metode ini dikembangkan di sana dengan sebutan
Jugyokenkyuu.
Kelebihan model ini:
a.
Dapat diterapkan pada semua bidang dan setiap tingkatan
kelas;
b.
Dapat dilaksanakan antar kelas.
8.
Model temuan terbimbing
Adalah satu pendekatan mengajar di mana
guru memberi siswa contoh topic spesifik dan memandu siswa untuk memahami topik
tersebut. Model
ini efektif untuk mendorong keterlibatan dan motivasi siswa seraya membantu
mereka untuk mendapatkan pehamanan yang mendalam tentang topik-topik yang
jelas.
9. Model peralihan
konsep
Model pengajaran yang dirancang untuk
membantu siswa dari semua usia mengembangkan dan menguatkan pemahaman mereka tentang
konsep dan mempraktekkkan berpikir kritis di dalam pelajarannya.
10. Model Integratif
Adalah model pengajaran yang atau instruksional untuk
membantu siswa mengembangkan pemahaman mendalam tentang bangunan pengetahuan
sistematis sambil secara bersamaan melatih ketrampilan berpikir kritis mereka.
Model ini dirancang untuk membantu siswa mencapai dua tujuan
belajar yang terkait:
a. Membangun pemahaman yang
mendalam tenteng bangunan pengetahuan yang sistematis;
b. Mengembangkan kemampuan
berpikir kritis.
11.
Model pembelajaran langsung
Yaitu model ayng menggunakan peragaan
dan penjelasan guru digabungkan dengan latihan dan umpan balik siswa untuk
membantu mereka mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan nyata yang dibutuhkan untuk
pembelajaran yang lebih jauh (Flores
& Kaylor, 2007; Leno & Dougherty, 2007).
12.
Model Ceramah Diskusi
Ini adalah model pengajaran yang dirancang untuk membantu
siswa memahami bangunan pengetahuan sistematis, dalam pelajarannya.
Bangunan pengetahuan sistematis (organized body of knowledge)
adalah topic-topik yang menghubungkan fakta, konsep, dan generalisasi serta
membuat hubungan di antara semua itu eksplisit atau gambling (Eggen & Kauchak, 2010; Rosenshine, 1987)[9].
Berkenaan dengan model
pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil mengetengahkan empat model:
1.
Model interaksi social
2.
Model pengolahan informasi
3.
Model personal humanistic
4.
Model modifikasi tingkah laku.
Dalam pelaksanaan proses pembelajaran
yang aktif, pengajar atau guru harus pandai memilih model yang tepat yang
sesuai dengan siswa, kondisi, sarana dan prasarana, ataupun apa saja yang
terkait dengan pembelajaran. Pertimbangan pokok dalam memilih model pembelajaran adalah
keefektifan proses pembelajaran, tentunya dengan menitik beratkan orientasi
pada siswa.
Tidak ada model pembelajaran yang paling unggul secara
mutlak. Namun keunggulan model belajar tergantung pada situasi kondisi yang ada
pada tempat pembelalajaran. Satu model yang unggul dalam penerapan satu kondisi
belum tentu unggul bula diterapkan pada kondisi yang lain. Oleh karena itu
untuk penerapan model yang relevan dengan situasi dan kondisi tertentu, guru
harus memahami model pembelajaran dari segi tatacara, kentungan, kekurangan
maupun keampuhannya.
BAB III
KESIMPULAN
A.
Definisi
Model
pembelajaran adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan kegiatan pembelajaran.
Meskipun terdapat
kemiripan pengertian model dengan istilah lain yang hampir semakna yakni kata pendekatan,
strategi, metode, dan teknik pembelajaran, secara spesifik model adalah bentuk
pembelajaran mulai dari awal sampai akhir yang memuat, strategi,
metode, dan teknik bahkan taktik yang disajikan oleh pengajar
B.
Macam-macam model pembelajaran.
a.
Problem based learning
b.
Cooperative Learning
c.
Quantum teaching
d.
Role Playing
e.
Picture and picture
f.
Numbered heads together
g.
Model Jigsaw
h.
Team games tournament (TGT)
i.
Model Examples Non Examples
j.
Model Lesson Study
k.
Model temuan terbimbing
l.
Model peralihan konsep
m.
Model Integratif
n.
Model pembelajaran langsung
o.
Model Ceramah Diskusi
Seyogyanya
guru mengerti, memahami, dan mampu memilih model yang paling efisien untuk
peserta belajar sesuai dengan situasi dan kondisi sehingga dapat membuat siswa
belajar secara optimal.
Daftar Pustaka
·
Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan: Membantu Mengatasi Kesulitan Guru
Memberikan Layanan Belajar Yang Bermutu (Bandung: Alfabeta, 2010).
·
Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah (Jakarta: Bumi Aksara,2000).
·
Masrofiq,
Makalah Strategi Pembelajaran, Malang, 2015
·
Software
KBBI v.1.1
·
Prof.
Abdurrakhman Gittings, M.Si.Ph.D.,
Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Humaniora Bandung, 2010.
·
Paul
Eggen & Don Kauchak, Strategi dan Model Pembelajaran, Jakarta, Indeks,
cetakan I 2012.
·
Dr.
Hamdani, M.A., Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia Bandung, 2011.
[1] Software KBBI V1.1
[2] Software KBBI v.1.1
[3]Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran Dalam
Profesi Pendidikan: Membantu Mengatasi
Kesulitan Guru Memberikan Layanan Belajar Yang Bermutu (Bandung: Alfabeta,
2010), h. 62.
[4]Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah
(Jakarta: Bumi Aksara,2000), h.152
[5]Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran Dalam
Profesi Pendidikan: Membantu Mengatasi
Kesulitan Guru Memberikan Layanan Belajar Yang Bermutu (Bandung: Alfabeta,
2010), h. 176
[6] Masrofiq, Makalah Strategi Pembelajaran, Malang, 2015
[7] Prof. Abdurrakhman Gittings,
M.Si.Ph.D., Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran, Humaniora 2010, hlm. 210
[8] Dr. Hamdani, M.A., Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia
Bandung, 2011, hlm. 89.
[9] Paul Eggen & Don Kauchak, Strategi dan Model Pembelajaran, Indeks,
cetakan I 2012, hlm. 400.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar